Orang Tionghoa Tidak Ditakdirkan Sebagai Pedagang

JAKARTA-Masyarakatsuku China atau yang akrab dengan istilahTionghoa tidaklah lahir ditakdirkan sebagai pedagang atau pengusaha, namun jika pada kenyataanya mereka banyak yang sukses dan mendominasi perekonomian Indonesia, itu sesungguhnya dikarenakan suatu kebetulan karena sebelumnya mereka tidak ada pilihan lain kecuali berdagang atau berbisnis.

“Semasa Orde baru lapangan pekerjaan juga terbatas, tidak mudah masuk sebagai pegawai negeri sipil atau Tentara Nasional Indonesia dan sebagainya. Terjun kedunia politik pun sangat susah dan selektif. Karena itu pilihannya adalah menekuni perdagangan,” kata Mantan Pemimpin Redaks iHarian Mandarin “Kundian Ri Bao” Drs Hendry Jurnawan SH, SIP, MM dalam seminar yang diselenggarakan Universitas Indonesia, Senin (4/7) di Kampus Fakultas Ilmu Sosial Politik Universitas Indonesia  Depok.

Seminar yang merupakan kerjasama FISIP UI dengan Yayasan Nabil (Nation Building) dan Visi Indonesia 2033 itu dengan tema: “The Indonesian Dream; Perspektif Tokoh Muda Tionghoa” menampilkan pembicara seperti akademisi Tionghoa Dr Beni Bevly, penulis buku Best  Saller After Orcard,Margareta Astaman, Mantan Bupati Bangka Timur Ahok alias Ir Basuki T Purnama MM.

Hadir sejumlah anggota DPR, DPD, pakar politik, sosiolog dan kalangan akademisi dan mahasiswa.

Dalam sharing pendapat  Hendry Jurnawan yang  kandidat Doktor dari Universitas Negeri Jakarta itu mengungkapkan pandangannya bahwa sejak lahir orde baru ada isu krusial yang tidak pernah tuntas yaitu suku dan agama. “Saya memahaminya ibarat api dalam sekam yang setiap saat bisa terbakar dan ini kerap kali muncul dan salah satu diantaranya adalah tragedy 1998,” katanya.

Padahal kata Hendry selama Orde Lama isu seperti itu tidak pernah ada. Dan antar masyarakat dapat saling menghargai dan menghormati satu sama lain dalam bingkai kebhinekaan yang tercermin didalam Pancasila, dimana Indonesia bukan terbentuk dari salah satu unsure tetapi berbaga iunsur. “Contoh dar isegi agama di Indonesia ada beberapa Agama, Suku juga bermacam-macam suku yang kemudian terakumulasi dalam bhineka tunggal ika itu,” paparnya.

Yang sangat memprihatinkan, kata Hendry, dominasi masyarakat Tionghoa dalam perekonomian itu juga bisa merupakan api dalam sekam, karena bisa dianggap sebagai pendatang belakangan, tetapi justru berada di depan. “Padahal konsep Negara Indonesia tidak demikian, semuanya sama,” kata Hendry.

Padalah, mereka juga bangsa Indonesia, semestinya diterima sebagai sebuah kenyataan dan mereka sebaga iaset bangsa yang bisa mengembangkan perekonomian Indonesia.

Menurut Hendry sejarah mencatat orang China di Negara perantauan tidak pernah menjadi pembangkang, mereka taat aturan dan tidak pernah melawan pemerintah. “Contoh  Negara Singapura, Negara ini tidak memasalahkan suku, kenyataan China di sana maju dan dipertahankan,” katanya.

Hendry juga mencontohkan Hongkong, masyarakat China di sana merasa tenang, ketika China akan mengambil kembali Hongkong maka terjadi eksodus besar-besaran masyarakat keturunan China keberbagai Negara seperti Asutralia, Amerika dan Canada  karena khawatir akan ada gejolak politik.

Pemerintah  RRT melihat suatu kerugian besar jika penduduknya meninggalkan Hongkong. “Karena kita ketahui Hongkong merupakan salah satu Pusat bisnis dunia. Dengan ingin tetap mempertahankan agar Hongkong pertumbuhan ekonominya tetap maju, pemerintah Tiongkok siap mengorbankan kepentingan Politik, maka terciptalah satu Negara dua system dan ini berlaku sampai 50 tahun, dimana selama 50 tahun Hongkong tetap adalah Hongkong,” papar Hendry.

Karenaitu di Hongkong saat ini walaupun merupakan bagian dari China, tetapi urusan peraturan, moneter, hokum diatur secara otomon penuh. “RRC yang perekonomiannya sangat majudan Negara besar saja bisa saja berfikir demikian, kenapa Negara kita Indonesia yang nyata-nyata plural kenapa harus mempersoalkan lagi dominasi suatu kelompok yang menguasai ekonomi. Padahal mereka juga adalah bangsa Indonesia,” katanya.(yus)

 

 

 

1 Komentar (+add yours?)

  1. pedomansdm
    Jul 06, 2011 @ 08:03:23

    Bagus pak. Lanjutkan…

    Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: