“STRATEGI MENGHADAPI PERDAGANGAN BEBAS ASEAN-CHINA”Sebuah Pandangan Dari Sudut Manajemen Sumber Daya Manusia

Oleh : Nyoman Sueta

Ancaman China

ASEAN China Free Trade Agreement  atau perdagangan bebas antar negara-negara anggota AESAN dan China telah diberlakukan mulai Januari 2010. Pengaruhnya terhadap perekonomian Indonesia sangatlah besar. Negara kita akan dibanjiri produk-produk murah dengan kualitas yang memadai dari China. Akibatnya, industri dalam negeri akan kalah bersaing dan sangat memungkinkan akan mengalami kebangkrutan. Ujung-ujungnya adalah akan terjadi pemutusan hubungan kerja (PHK) besar-besaran dan hal ini memungkinkan terjadinya peningkatan kemiskinan dan kriminalitas.

Membayangkan kejadian ini tentu kita akan berpikir kenapa industri kita mesti kalah bersaing melawan China. Kenapa China bisa menjual barang dengan kualitas yang memadai dengan harga yang lebih murah. Menurut Ketua Asosiasi Pengusaha Indonesia Syofyan Wanandi[1], ada beberapa faktor yang meyebabkan China bisa memproduksi barang dengan biaya murah, yaitu :

1. Memaksimalkan Usaha Kecil dan Menegah (UKM)

Peran usaha kecil dan menengah dimaksimalkan untuk menopang kekuatan ekspor. Pemerintah membantu mengurus izin pendirian UKM dan menerapkan sistem plasma sehingga biaya produksi tidak tinggi.

2. Infrastruktur Mendukung

Sejak 1978, pemerintah membangun jaringan infrastruktur untuk memacu ekspor, yang meliputi jalan raya, pelabuhan dan tenaga listrik. Total panjang jalan raya meningkat dari 89.200 kilometer pada tahun 1978 menjadi 170.000 kilometer pada 2002. Saat ini terdapat 3.800 pelabuhan. Pada 2001 saja, China mampu menyediakan tenaga listrik 14.78 triliun kilowatt-jam.

3. Insentif Ekspor

Bunga kredit rendah, yakni 3-6 persen, Selain itu, pemberian subsidi ekspor berupa pemotongan pajak 9-17 persen.

4. Produktivitas Buruh Tinggi

Buruh memiliki jam kerja 12 jam per hari. Hasilnya bisa dua kali produksi buruh di Indonesia.

5. Produksi dalam jumlah besar

Volume produksi besar, yaitu untuk memenuhi penduduk China yang sangat banyak dan ekspor ke seluruh dunia.

6. Regenerasi Mesin Tua

Pemerintah China menstimulus industrinya dengan mengganti semua mesin tua di pesisir utara dekat Hongkong dengan mesin paling modern. Mesin tua dipindahkan ke pedalaman, yang buruhnya masih murah. Teknologi modern diantaranya dipakai untuk garmen dan tekstil.

7. Dukungan Industri Komponen

China mampu memproduksi semua komponen di dalam negeri, sehingga biaya komponennya masih murah.

          Sumber daya manusia China, selain sangat produktif juga sangat kreatif dan inovatif, sehingga bisa mengikuti dan mengembangkan teknologi  dan membuat barang-barang dengan cara yang lebih murah.

          Sebaliknya di Indonesia, banyak hal-hal yang membuat lingkungan tidak kondusif buat industri, antara lain :

  1. Ekonomi biaya tinggi, dimana banyak terjadi pungutan-pungutan yang tidak resmi yang dilakukan oleh birokrat dan aparat keamanan. Saat ini diyakini bahwa pungutan-pungutan yang tidak resmi itu jauh melebihi pungutan resmi.
  2. Terbatasnya infrastruktur
  3. Kapasitas produksi yang relatif rendah karena pangsa pasar terbatas.
  4. Dilihat dari sumber daya manusianya, banyak sifat/sikap yang kurang mendukung dunia industri, antara lain : kurang disiplin, produktivitas rendah dan kurang inovatif.

Kesemua ini membuat industri tidak bisa membuat barang dengan harga yang murah, sehingga produknya kurang laku di pasar. Sebagai alternatif, para konsumen akan beralih ke produk China yang lebih murah dan kualitas memadai.

Antisipasi

Melihat bahwa ancaman sudah di depan mata, maka tidak mungkin kita dapat membenahi semua kelemahan dalam jangka pendek. Yang dapat kita lakukan dalam jangka pendek ini, menurut Sofyan Wanandi[2], adalah membatasi masuknya barang dari China terutama yang kualitas rendah dengan cara pemberlakuan sistem standar kualitas yang ketat, menurunkan suku bunga, kebijakan insentif ekspor dan melindungi industri dari pungutan-pungutan liar, baik dari preman maupun dari aparat pemerintah. Upaya-upaya ini tentu saja harus dibarengi dengan program jangka panjang untuk mempersiapkan infrastruktur.

Sumber Daya Manusia (SDM)

Akibat yang paling nyata dari pada pemberlakuan FTA Asean China ini adalah akan terjadi peningkatan pengangguran yang sangat tajam. Strategi pengelolaan tenaga kerja yang diperlukan untuk mengatasinya adalah sebagai berikut :

1.   Menanamkan Nasionalisme dengan Mengutamakan Penggunaan Produk Dalam Negeri

Menurut Wikipedia, nasionalisme adalah satu paham yang menciptakan dan mempertahankan kedaulatan sebuah negara (dalam bahasa Inggris “nation”) dengan mewujudkan satu konsep identitas bersama untuk sekelompok manusia. Pertanyaannya bagaimana dengan nasionalisme di Indonesia. Nasionalisme dapat dilihat dari bagaimana sikap warganya yang mementingkan kepentingan negara dan bangsa diatas kepentingan pribadi atau golongan. Dengan konsep ini maka penulis agak meragukan rasa nasionalis diantara warga negara Indonesia, dilihat dari maraknya korupsi, diskriminasi warga negara keturunan Tionghoa, pemilihan atau penggunaan produk semata-mata hanya melihat kualitas atau sekedar trendy, tanpa ada pertimbangan akan kebanggan atas produk dalam negeri. Kebanyakan dari kita merasa seolah-olah kita sudah sangat nasionalis ketika menyaksikan pertandingan sepakbola antara PSSI dengan kesebelasan dari negara lain. Atau ketika kita marah kepada Malaysia yang kita tuduh mencuri warisan budaya Indonesia.  Nasionalisme model begini tidaklah salah, namun baru menyentuh permukaannya saja, belum menyentuh lapisan terdalam. Kita jangan mudah puas dengan nasionalisme model begini. Dengan kata lain, kita harus menerapkan bentuk nasionalisme yang nyata memberikan ketahanan dan kemakmuran bangsa.

Ikut memelihara fasilitas umum (jalan, pasar, gedung pemerintah dan lain-lain) dan mengikuti peraturan lalu lintas sehingga tidak menyebabkan kesusahan orang lain adalah bentuk nasionalisme yang nyata. Dan yang sangat terkait dengan pemberlakuan FTA ASEAN China adalah bahwa setiap warga negara agar mengutamakan penggunaan produk dalam negeri. Saat ini ada kecenderungan warga negara Indonesia menggunakan barang impor dan francise asing. Misalnya, menggunakan pakaian merk dari Italy atau Perancis, berbelanja di Carefour atau minum kopi di Starbuck. Akibatnya adalah keuntungan yang didapatkan dari usaha bisnis tersebut tidak sepenuhnya dinikmati oleh bangsa Indonesia atau sebagian keuntungan akan lari ke luar negeri dan sudah pasti mengkerdilkan industri dalam negeri. 

Lantas upaya apa yang perlu dilakukan agar warga negara kita cenderung memilih produk lokal dari pada asing. Memang semua ini  sangat tergantung dari pribadi setiap orang. Yang perlu dilakukan adalah dengan melakukan kampanye secara intensip seperti yang dilakukan India dengan “swadesi” nya. Pesan-pesan kecintaan terhadap produk lokal diselipkan dalam setiap jenjang pendidikan. Pemerintah juga mesti meningkatkan pembinaan industri lokal agar dapat memperbaiki kualitas produknya sehingga dapat bersaing dengan produk impor. Sebagai contoh, misalnya jangan sampai orang tidak berani membeli makanan lokal (bakso, mie dan lain-lain) karena dikhawatirkan mengandung formalin atau zat kimia berbahaya lainnya. Salah satu alasan kenapa orang asing memilih makanan francise dari negara maju adalah jaminan kualitasnya. Dan kita suka meniru perilaku orang asing karena menganggap mereka lebih maju. Pertanyaannnya adalah, bagaimana pemerintah dan pengusaha lokal kita bisa memberi jaminan kualitas terhadap produknya.

2.   Membuka Lapangan Kerja di bidang Perikanan dan Kelautan

Seperti kita ketahui, tigaperlima bagian wilayah Indonesia atau 5.8 juta KM2 merupakan perairan laut dan mempunyai 17.508 pulau dengan total panjang pantai sebesar 81.000 KM. Hal ini menunjukkan adanya potensi yang sangat besar dalam bidang kelautan. Bidang-bidang tersebut antara lain perikanan dan budidaya laut (rumput laut, mutiara, ikan dan lain-lain). Saat ini baru sebagian kecil dari kita yang memanfaatkan kekayaan ini.

Selain keterbatasan modal, juga minat dan kompetensi masyarakat kita yang kurang. Peran pemerintah dalam menarik investor dan pengembangan SDM di bidang kelautan sangat diharapkan. Pengusaha agar diberi kemudahan atau insentif, pendidikan di bidang kelautan diperluas dan ditingkatkan sehingga selain meningkatkan kompetensi juga minat. Fasilitas penyaluran hasil budidaya dan perikanan dibenahi dan juga komunitas nelayan diberi fasilitas hiburan yang memadai sehingga banyak orang yang tertarik menjadi nelayan.

3.   Menyiapkan tenaga kerja untuk mengisi kebutuhan tenaga kerja di luar negeri

Seperti diketahui bersama bahwa para TKI yang bekerja di luar negeri sangat berjasa kepada bangsa dan negara dalam menambah devisa dan memberi solusi dengan adanya pengurangan jumlah pengangguran di Indonesia. Menurut Eman Suparno[3], devisa negara yang didapatkan dari TKI pada tahun 2009 diperkirakan mencapai Rp. 189 triliun. Saat ini para TKI kita yang bekerja di luar negeri  masih mayoritas berada di level tenaga non-skill sehingga mereka mendapat imbalan yang relatif rendah, meskipun jauh lebih baik dari pada kondisi di Indonesia. Kedepan kita harus menyiapkan tenaga skill yang mendapat upah yang lebih baik sehingga selain untuk dirinya sendiri juga membantu lingkungan masyarakat di Indonesia.

Negara yang cukup bagus menerapkan pegiriman tenaga kerja di luar negaranya adalah Cuba. Negara Cuba mendidik tenaga dokter dan mempekerjakannya ke negara-negara di sekitar Amerika Latin. Indonesia mestinya dapat mengikuti langkah Cuba dengan mendidik generasi mudanya dan menyalurkan ke negara-negara yang membutuhkan. Saat ini banyak negara-negara kaya di Eropa, Arab dan Asia membutuhkan tenaga skill di bidang kesehatan dan teknik, sehingga pendidikan sebaiknya lebih banyak ditekankan untuk mencetak dokter, perawat, teknisi dan insinyur untuk disalurkan ke negara-negara tersebut.

Pentingnya Penguasaan Bahasa Inggris

Untuk menunjang kemampuan dalam bekerja maka calon pekerja haruslah mempunyai kemampuan komunikasi yang baik. Selain menguasai bahasa di tempat tujuan bekerja juga haruslah menguasai bahasa Inggris. Pendidikan bahasa Inggris yang dilakukan sekarang harus ditingkatkan secara total. Artinya, bukan saja menambah belajar, tetapi bagaimana memfasilitasi agar para siswa punya kesempatan yang luas untuk mempraktekkan memabaca, menulis, mendengar dan berbicara. Misalnya, penyelengaraan seminar atau diskusi dalam bahasa Inggris, lomba pidato/sandiwara/menulis dalam bahasa Inggris secara rutin sampai di tingkat pedesaan dengan hadiah-hadiah menarik yang disediakan oleh pemerintah. Kegiatan penguasaan bahasa Inggris dikatagorikan sebagai Program Nasional yang digerakkan secara sporadis oleh setiap komponen pemerintah dan masyarakat. Stasiun televisi dan radio diwajibkan menyelenggarakan siaran kursus bahasa Inggris dan acara bahasa Inggris yang melibatkan masyarakat. Misalnya, kuis dan drama yang dimainkan oleh siswa-siswi sekolah. Media cetak (koran dan majalah) diwajibkan memuat berita dalam bahasa Inggris yang dilengkapi dengan terjemahannya sebanyak minimal 1 (satu) halaman.

Memang ada kekhawatiran, bahwa dengan menggalakkan penggunaan bahasa Inggris seolah-olah tidak menghargai bahasa Indonesia yang berujung pada hilangnya nasionalisme. Dalam hal ini penulis tidak sependapat, karena bahasa Indonesia tetap menjadi bahasa nasional yang digunakan sebagai bahasa yang mengatur penyelenggaraan negara, misalnya di bidang hukum. Disamping itu, penggunaan bahasa dalam kehidupan bisnis dan iptek tidak diidentikkan dengan nasionalisme yang lemah. Seperti disebutkan sebelumnya, sebaiknya nasionalisme cenderung dikaitkan dengan setiap usaha yang memperkuat ketahanan bangsa baik secara politik maupun ekonomi. 

4.   Peningkatan Kompetensi Pemasaran Internasional

        Pengerahan tenaga kerja ke luar negeri, sementara industri dalam negeri yang tidak berkembang, bukanlah keadaan yang ideal. Diharapkan dengan banyaknya tenaga skill kita yang bekerja di luar negeri akan mendapat pengalaman yang berharga dan bila kondisi di Indonesia telah kondusif, sebagian dari mereka akan kembali memperkuat  pengembangan industri dalam negeri. 

        Untuk meningkatkan daya saing industri Indonesia, selain membenahi kelemahan-kelemahan yang menyangkut ekonomi biaya tinggi, terbatasnya infrastruktur dan rendahnya produktivitas kerja, juga perlu diciptakan SDM-SDM yang mempunyai kompetensi entrepreneurship dengan penekanan di bidang pemasaran internasional sehingga industri kita dapat meningkatkan kapasitasnya dengan penetrasi pasar luar negeri.

        Terkait dengan pemasaran internasional, image negara lain terhadap Indonesia sangatlah menentukan. Saat ini Indonesia lebih dinilai sebagai negara yang rakyatnya tidak disiplin, munafik, terroris, pemalas dan lain-lain. Stigma ini membuat orang dari negara lain sulit mempercayai dan menggunakan produk dari Indonesia. Oleh karena itu kita pertama-tama perlu memperbaiki citra. Salah satunya adalah melakukan ekspor produk-produk yang populer. Langkah Pertamina membuka retail BBM dan pelumas di Australia, Singapore dan Pakistan merupakan langkah yang patut diacungi jempol dan patut ditiru. Penggunaan produk yang berkualitas dari Indonesia, sedikit demi sedikit akan mempengaruhi image negara lain atas produk kita.

        Strategi yang dilaksanakan oleh BJ Habibie untuk mengembangkan teknologi canggih (pesawat terbang), dalam hal ini sangatlah tepat. Bila kita diakui mampu membuat produk hitech, secara otomatis produk-produk Indonesia yang lain juga akan terimbas image sebagai produk yang bermutu tinggi baik bagi konsemen domestik maupun konsumen luar negeri. Pada akhirnya hal ini akan dapat meningkatkan penjualan produk. Dulu pernah terjadi kejadian yang ironis, yaitu keberhasilan negara kita membuat pesawat terbang dilecehkan oleh sebagian warga hanya karena produk pesawat terbang kita ditukar dengan ketan oleh Thailand. Orang keliru menilai, seolah-olah pesawat terbang yang dihasilkan hanya sekelas ketan. Padahal, mestinya orang menilai, bagaimana sebuah pesawat yang diproduksi dari otak-otak brilian bangsa kita dapat ditukar dengan ribuan ton ketan yang diproduksi dari berhektar-hektar sawah dan ribuan pekerja.

        Selain itu pengiriman tenaga profesional kita ke luar negeri dapat mengenalkan dan meningkatkan image produk Indonesia. Namun akan terjadi sebaliknya kalau yang dikirim ke luar negeri adalah tenaga kerja non-skill yang bekerja sebagai buruh kasar atau pembantu rumah tangga.

Penutup

        Dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, kita mesti selau menyadari dimana posisi kita di tengah konstelasi politik dan ekonomi dunia. Dimana kekuatan dan kelemahan kita. Dengan demikian kita yang sudah lepas dari penjajahan secara fisik oleh bangsa lain bisa mengakhiri penjajahan secara ekonomis yang kita rasakan saat ini. Dengan sumber daya alam yang melimpah maka kita harus mengakui bahwa satu-satunya alasan mengapa kita terpuruk adalah rendahnya kualitas sumber daya manusia. Sehingga mau tidak mau kita harus meningkatkan kualitasnya lewat pembelajaran yang terus-menerus. Namun untuk pembelajaran ini kita harus membuat strategi dengan skala prioritas sesuai dengan tantangan yang dihadapi. Satu hal yang merupakan prioritas utama adalah penguasaan bahasa Inggris bagi generasi muda.

Daftar Pustaka

  1. Suparno, Eman (2009), National Man Power Strategy, Jakarta, Kompas
  2. Hartanto, F. M. (2009), Paradigma Baru Manajemen Indonesia, Bandung, Mizan

[1] Koran Tempo tanggal 31 Januari 2010 halaman A6

[2] Koran Tempo tanggal 31 Januari 2010 halaman A9

[3] Eman Suparno, Strategi Ketenagakerjaan Nasional, halaman 102

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: